Kamis, 06 Januari 2011

10 Tips Desain & Kenyamanan Blog

Urusan desain dan kenyamanan dalam pemakaian mempunyai banyak manfaat dan banyak juga kendala dalam penerapannya. Salah satu solusi adalah tidak melihat penampilan dari sisi seni, jadi coret saja penilaian tentang blogmu.
Salah satu cara untuk mendeteksi persoalan sebenarnya sangat gampang, yaitu dengan mencoba berulang kali. Baik dicoba sendiri atau minta pendapat teman-teman. Salah satu kunci untuk membuat blog yang gampang dinikmati adalah tampil sederhana dan tidak terlalu bereksperimen dengan fungsi. Berikut beberapa catatan dari pengalaman browsing berjuta halaman:
-
1. Logo & Judul
Pastikan blog mempunyai sebuah logo atau judul blog sebagai persyaratan branding. Selain penting sebagai identitas, elemen ini juga merupakan elemen penting navigasi. Pengguna internet pada umumnya sudah terbiasa dengan logo/judul blog yang mengarah kembali ke halaman depan.
-
2. Navigasi
Untuk memudahkan mencari konten tertentu, navigasi merupakan sasaran utama para penjelajah. Karena di sini keseluruhan situs dipisah menurut kategori-kategori tertentu agar mudah untuk ditelusuri. Penempatan navigasi pada umumnya terletak di bagian atas atau samping, dan mudah terlihat dengan sederetan pilihan. Berhubung blog pada umumnya berfungsi sebagai penerbitan jurnal, maka selain kategori, juga bisa menggunakan tag atau arsip sebagai alat navigasi.
-
3. Search Bar
Fitur yang satu ini sudah termasuk prasyarat utama, terutama situs berskala besar dengan ribuan atau jutaan halaman. Penempatan search bar atau kontak pencari pada umumnya sejajar dengan navigasi dan logo.
-
4. Konsistensi
Penampilan situs antar halaman harusnya memiliki persamaan sehingga gampang diikuti. Hal ini juga mempermudah pengguna untuk mendeteksi konten utama dan menelusuri halaman-halaman lain. Yang di maksud penampilan bisa meliputi warna dan penempatan elemen-elemen penting.
-
5. Warna & Kontras
Banyak yang memandang warna dari sisi seni, yang akhirnya salah hasilnya. Yang tadinya mau terlihat indah, malah jadi amburadul karena pilihan warna yang tidak sesuai atau bahkan menjadikan teks susah di baca. Bila bingung dengan pemilihan warna, pakai saja pilihan kontras hitam dan putih, atau bahkan abu-abu sebagai variasi. Kontras juga menentukan bobot elemen yang lebih penting dan menarik perhatian pembaca.
-
6. Teks & Paragraf
Kesalahan yang paling sering dijumpai adalah penggunaan teks yang terlalu kecil dan tinggi baris (line height) yang sempit, sehingga setiap paragraf terkesan penuh sesak. Hal lain yang perlu diperhatikan adalah perbandingan ukuran teks paragraf dengan judul (heading). Tambahan lain adalah penggunaan bentuk huruf yang berbeda, antara teks dan judul, untuk lebih bervariasi.
-
7. Link
Kesalahan paling sering adalah menghilangkan garis bawah pada tiap link, tanpa menambah perubahan lain agar gampang dibedakan. Pengguna sudah terbiasa dari awal penggunaan internet, bahwa link selalu digaris-bawahi. Oleh karena itu, bila ingin mengubah variasi link, pastikan masih bisa dibedakan dengan teks normal.
-
8. White Space
Penggunaan white space, atau ruang kosong, berguna untuk membantu pembaca fokus ke sajian utama, juga memisahkan elemen, entah karena alasan prioritas atau memang seharusnya terpisah. Penggunaan ruang kosong yang tepat juga membantu pembaca untuk menikmati halaman dengan lega.-
-
9. Penggunaan Widget
Sudah cek widget mana yang benar-benar berguna? Banyak blogger menggunakan banyak widgetyang akhirnya malah membuat halaman penuh sesak. Ada baiknya bila kita mencoba satu per satu, widget mana yang tidak bermanfaat dan menghilangkannya.
-
10. Loading Time
Hosting boleh yang murah meriah asal tidak lambat untuk melayani pengunjung. Sebagian besar pengunjung tidak tahan menunggu penyajian halaman yang lambat, bahkan cenderung untuk menutup langsung halaman tersebut.

Empati

Suatu malam, sepulang kerja, saya mampir di sebuah restoran cepat saji di
kawasan Bintaro. Suasana sepi. Di luar hujan. Semua pelayan sudah
berkemas. Restoran hendak tutup. Tetapi mungkin melihat wajah saya yang
memelas karena lapar, salah seorang dari mereka memberi aba-aba untuk
tetap melayani. Padahal, jika mau, bisa saja mereka menolak.
Sembari makan saya mulai mengamati kegiatan para pelayan restoran. Ada
yang menghitung uang, mengemas peralatan masak, mengepel lantai dan ada
pula yang membersihkan dan merapikan meja-meja yang berantakan.
Saya membayangkan rutinitas kehidupan mereka seperti itu dari hari ke
hari. Selama ini hal tersebut luput dari perhatian saya. Jujur saja, jika
menemani anak-anak makan di restoran cepat saji seperti ini, saya tidak
terlalu hirau akan keberadaan mereka. Seakan mereka antara ada dan tiada.
Mereka ada jika saya membutuhkan bantuan dan mereka serasa tiada jika saya
terlalu asyik menyantap makanan.
Namun malam itu saya bisa melihat sesuatu yang selama ini seakan tak
terlihat. Saya melihat bagaimana pelayan restoran itu membersihkan
sisa-sisa makanan di atas meja. Pemandangan yang sebenarnya biasa-biasa
saja. Tetapi, mungkin karena malam itu mata hati saya yang melihat,
pemandangan tersebut menjadi istimewa.
Melihat tumpukan sisa makan di atas salah satu meja yang sedang
dibersihkan, saya bertanya-tanya dalam hati: siapa sebenarnya yang baru
saja bersantap di meja itu? Kalau dilihat dari sisa-sisa makanan yang
berserakan, tampaknya rombongan yang cukup besar. Tetapi yang menarik
perhatian saya adalah bagaimana rombongan itu meninggalkan sampah bekas
makanan.
Sungguh pemandangan yang menjijikan. Tulang-tulang ayam berserakan di atas
meja. Padahal ada kotak-kotak karton yang bisa dijadikan tempat sampah.
Nasi di sana-sini. Belum lagi di bawah kolong meja juga kotor oleh
tumpahan remah-remah. Mungkin rombongan itu membawa anak-anak.
Meja tersebut bagaikan ladang pembantaian. Tulang belulang berserakan.
Saya tidak habis pikir bagaimana mereka begitu tega meninggalkan sampah
berserakan seperti itu. Tak terpikir oleh mereka betapa sisa-sisa makanan
yang menjijikan itu harus dibersihkan oleh seseorang, walau dia seorang
pelayan sekalipun.
Sejak malam itu saya mengambil keputusan untuk membuang sendiri sisa
makanan jika bersantap di restoran semacam itu. Saya juga meminta
anak-anak melakukan hal yang sama. Awalnya tidak mudah. Sebelum ini saya
juga pernah melakukannya. Tetapi perbuatan saya itu justru menjadi bahan
tertawaan teman-teman. Saya dibilang sok kebarat-baratan. Sok menunjukkan
pernah
ke luar negeri. Sebab di banyak negara, terutama di Eropa dan Amerika,
sudah jamak pelanggan membuang sendiri sisa makanan ke tong sampah.
Pelayan terbatas karena tenaga kerja mahal.
Sebenarnya tidak terlalu sulit membersihkan sisa-sisa makanan kita.
Tinggal meringkas lalu membuangnya di tempat sampah. Cuma butuh beberapa
menit. Sebuah perbuatan kecil. Tetapi jika semua orang melakukannya,
artinya akan besar sekali bagi para pelayan restoran.
Saya pernah membaca sebuah buku tentang perbuatan kecil yang punya arti
besar. Termasuk kisah seorang bapak yang mengajak anaknya untuk
membersihkan sampah di sebuah tanah kosong di kompleks rumah mereka.
Karena setiap hari warga kompleks melihat sang bapak dan anaknya
membersihkan sampah di situ, lama-lama mereka malu hati untuk membuang
sampah di situ.
Belakangan seluruh warga bahkan tergerak untuk mengikuti jejak sang bapak
itu dan ujung-ujungnya lingkungan perumahan menjadi bersih dan sehat.
Padahal tidak ada satu kata pun dari bapak tersebut. Tidak ada slogan,
umbul-umbul, apalagi spanduk atau baliho. Dia hanya memberikan
keteladanan. Keteladanan kecil yang berdampak besar.
Saya juga pernah membaca cerita tentang kekuatan senyum. Jika saja setiap
orang memberi senyum kepada paling sedikit satu orang yang dijumpainya
hari itu, maka dampaknya akan luar biasa. Orang yang mendapat senyum akan
merasa bahagia. Dia lalu akan tersenyum pada orang lain yang dijumpainya.
Begitu seterusnya, sehingga senyum tadi meluas kepada banyak orang.
Padahal
asal mulanya hanya dari satu orang yang tersenyum.
Terilhami oleh sebuah cerita di sebuah buku “Chiken Soup”, saya kerap
membayar karcis tol bagi mobil di belakang saya. Tidak perduli siapa di
belakang. Sebab dari cerita di buku itu, orang di belakang saya pasti akan
merasa mendapat kejutan. Kejutan yang menyenangkan. Jika hari itu dia
bahagia, maka harinya yang indah akan membuat dia menyebarkan virus
kebahagiaan tersebut kepada orang-orang yang dia temui hari itu. Saya
berharap virus itu dapat menyebar ke banyak orang.
Bayangkan jika Anda memberi pujian yang tulus bagi minimal satu orang
setiap hari. Pujian itu akan memberi efek berantai ketika orang yang Anda
puji merasa bahagia dan menularkan virus kebahagiaan tersebut kepada
orang-orang di sekitarnya.
Anak saya yang di SD selalu mengingatkan jika saya lupa mengucapkan kata
“terima kasih” saat petugas jalan tol memberikan karcis dan uang
kembalian. Menurut dia, kata “terima kasih” merupakan “magic words” yang
akan membuat orang lain senang. Begitu juga kata “tolong” ketika kita
meminta bantuan orang lain, misalnya pembantu rumah tangga kita.
Dulu saya sering marah jika ada angkutan umum, misalnya bus, mikrolet,
bajaj, atau angkot seenaknya menyerobot mobil saya. Sampai suatu hari
istri saya mengingatkan bahwa saya harus berempati pada mereka. Para supir
kendaraan umum itu harus berjuang untuk mengejar setoran. “Sementara kamu
kan tidak mengejar setoran?” Nasihat itu diperoleh istri saya dari
sebuah tulisan almarhum Romo Mangunwijaya. Sejak saat itu, jika ada
kendaraan umum yang menyerobot seenak udelnya, saya segera teringat
nasihat istri tersebut.
Saya membayangkan, alangkah indahnya hidup kita jika kita dapat membuat
orang lain bahagia. Alangkah menyenangkannya jika kita bisa berempati pada
perasaan orang lain. Betapa bahagianya jika kita menyadari dengan membuang
sisa makanan kita di restoran cepat saji, kita sudah meringankan pekerjaan
pelayan restoran.
Begitu juga dengan tidak membuang karcis tol begitu saja setelah membayar,
kita sudah meringankan beban petugas kebersihan. Dengan tidak membuang
permen karet sembarangan, kita sudah menghindari orang dari perasaan kesal
karena sepatu atau celananya lengket kena permen karet.
Kita sering mengaku bangsa yang berbudaya tinggi tetapi berapa banyak di
antara kita yang ketika berada di tempat-tempat publik, ketika membuka
pintu, menahannya sebentar dan menoleh kebelakang untuk berjaga-jaga
apakah ada orang lain di belakang kita? Saya pribadi sering melihat orang
yang membuka pintu lalu melepaskannya begitu saja tanpa perduli orang di
belakangnya terbentur oleh pintu tersebut.
Jika kita mau, banyak hal kecil bisa kita lakukan. Hal yang tidak
memberatkan kita tetapi besar artinya bagi orang lain. Mulailah dari
hal-hal kecil-kecil. Mulailah dari diri Anda lebih dulu. Mulailah sekarang
juga.

Sudah Bersyukurkah Kita?

Jika kita merasa selalu hidup dalam tekanan, coba lihatlah mereka..
Cobaan Hidup
Jika kita merasa pekerjaan kita sangatlah berat, bagaimana dengan dia??
Cobaan Hidup
Bila kita merasa gaji kita sangat sedikit, bagaimana dengan anak yg malang ini??
Cobaan Hidup
Jika kita merasa belajar adalah sebuah beban, contohlah semangatnya..
Cobaan Hidup
Jika kita sempat merasa putus asa, ingatlah orang ini..
Cobaan Hidup
Jika kita merasa hidup kita sangat menderita, apakah kita juga merasakan penderitaan seperti orang ini??
Cobaan Hidup
Jika kita merasa hidup kita tidak adil, bagaimana dengan dia??
Cobaan Hidup
Di saat kita kecil dimanja dan di sayang, manjakah mereka?
Cobaan Hidup
Pantaskah kita mengeluh tentang makanan disaat ia sedang membayangkan makan happy meal??
Cobaan Hidup
Tdk merasa bersalahkah kita masih selalu tidak mendengarkan bahkan melawan ibu kita?
Cobaan Hidup
Tanya ke dalam diri kita sendiri, dibandingkan dengan mereka, seberapa beruntungkah sebenarnya kita? Masih pantaskah kita selalu mengeluh akan masalah-masalah “kecil” yang menimpa hidup kita? Di saat kita dihadapi oleh berbagai rintangan dalam hidup, ingat, kita tidak pernah kehilangan opsi untuk tetap bersyukur..
Bukankah bersyukur merupakan cara paling mudah untuk mencicipi kebahagiaan?? Selalu BERSYUKUR dimanapun anda berada, kapanpun, dan pada kondisi apa pun..
Setelah melihat video yg satu ini, makan malam yg sederhana pun terasa begitu berlimpah..
Mereka saja cuma dapet begitu sudah sangat bahagia.. Sungguh disayangkan klo kita yang sudah disuguhi dengan berbagai kecukupan tapi masih aja selalu merasa kurang..
Mari kita sama-sama belajar untuk selalu bersyukur..

Selamat Jalan, Adikku ‘Sassie’

Demi Allah, ada sejam lebih gue nangis di depan komputer. Padahal waktu udah jam 2 pagi, dan tadi baru pulang ‘makarya‘ jam 11 malem. Seharusnya gue udah tidur karena besok pagi harus ngajar. Atau mending sholat tahajud, mengingat ini udah sepertiga malam yang terakhir.
Niatnya tadi cuma ngenet bentar, cek dagangan, dan blogwalking sedikit. Tapi ternyata malah mampir ke salah satu blog yang sangat luar biasa, yaitu blog nya Sassie Kirana. Masih sangat muda, tapi tulisan-tulisannya sangat inspiratif.
Dan yang paling gue sesalkan, gue baru bisa ‘berkenalan’ dengannya sekarang. Hampir 1 bulan setelah beliau berpulang ke Rahmatullah. Ya, jam 3 dini hari tanggal 20 April 2009, setelah berjuang dengan kanker stadium 4, adik kita ini dipanggil Yang Kuasa.
Membayangkan gimana sakitnya terpapar kanker aja udah membuat hati merinding. Apalagi ternyata dik Sassie ini baru beberapa bulan sebelumnya ditinggal pergi oleh sang ibunda tercinta. Untuk selama-lamanya. Duh, kalo gue mungkin ga akan kuat menerima cobaan seberat itu.
Tapi alih-alih meratapi nasib, Sie (panggilannya kepada diri sendiri) justru banyak membuat tulisan yang sangat menyentuh. Ditambah lagi, ada halaman khusus Curhat Bareng Sassie dimana Sie bersedia menerima curhat dan berbagi rasa dengan para pengunjungnya. Padahal, dengan kondisi dia yg seperti itu, sewajarnya kalau dialah yang perlu banyak bercurhat.
Sungguh gue malu kalau membandingkan dengan diri sendiri yang masih suka egois, mementingkan kepentingan pribadi dulu. Padahal mungkin saat ini masih banyak orang yang butuh pertolongan kita.
Sie ga pernah mengeluh atau malah meratapi takdirnya. Di halaman profile-nya, Sie pernah berujar “Thanks God.. for creating Me”. Bandingkan dengan diri kita yang baru ditimpa kesusahan sedikit aja, udah langsung menyalahkan Sang Pencipta.
Bahkan di salah satu tulisannya, Sie sempat menceritakan pengalaman operasi yang harus dijalaninya. Sekali lagi, jangan bayangkan ceritanya akan berisi kisah sedih dan memilukan. Justru bahasa yang digunakan malah lebih bernuansa ceria, seperti :
“Mau nulis apa yaaa..bingung euy..cerita pengalaman seru sie selama pengobatan aja mauuu ?”
“Uugh..seruuuu bangeet..bayangin ajah gimana rasanya punggung belakang sie dilubangi,di masukkin jarum dan selang kedalam paru paru..dan sie melakukan itu tanpa dibius he he.. seruuu bangeeett kaaann..”
“Ayoo semangaaat, berjuang dan sie pasti menaaaangg he he..ketularan virus narsis daddynya sie xixixi”
Dan yang lebih hebatnya lagi, saat berkunjung ke Panti Asuhan, Sie malah berucap “Sie seneeng banget berada diantara mereka yang nasibnya gak seberuntung kita“. Kita kan berarti aku dan kamu, saya dan anda. Dengan kondisinya yang seperti itu, Sie masih bisa bersyukur.
-
Akhir kata, Selamat Jalan Sie. Semoga Allah merahmati semua amal, mengampuni segala kesalahan, dan menerimamu di sisi-Nya di tempat yang mulia.
Engkau mungkin telah pergi, tapi engkau telah meninggalkan banyak pelajaran untuk kita semua. Insya Allah ilmu yang bermanfaat itu termasuk amal jariah. Tidak pernah terputus pahalanya. Amin..

Salah satu tulisan Sie :
Tetap Bertahan..i’m still alive…
Haii..all..
Alhamdulillah sie masih bisa balik lagi kesini..duh senengnyaa,duh kangeennyaaa
Mau nulis apa yaaa..bingung euy..cerita pengalaman seru sie selama pengobatan aja mauuu ?
Harus mau yaa haha maksaa biarin ah..
Jadi gini..
Waktu di sampai di Lahad Datu Hospital sie melakukan cek ulang secara keseluruhan lagi,
Dan hasilnya..jujur bikin sie sempet shock dan terdiam lama
Kalian tau gak ,ternyata vonis kanker yang tadinya stadium III berkembang cepat menjadi IV B..benjolannya ternyata sudah ada dimana mana, limpa,pankreas juga tulang dada sie sebelah kanan..itu yang bikin sie selalu merasa sakit seperti ditusuk hingga tembus kebelakang..
Yang mengejutkan juga ternyata lebih dari separuh paru paru kanan sie penuh berisi cairan..ternyata itu yang selama ini menjadi penyebab sie sesak nafas..
Besok paginya diputuskan sie harus menjalani penyedotan untuk membuang cairan diparu paru sie..
Mau tau rasanya??
Uugh..seruuuu bangeet..bayangin ajah gimana rasanya punggung belakang sie dilubangi,di masukkin jarum dan selang kedalam paru paru..dan sie melakukan itu tanpa dibius he he.. seruuu bangeeett kaaann..
Nah..selesai disedot sie baru bisa bernafas dengan lega..fiuhhh
Lalu tim dokter mulai menyiapkan rencana operasi pengangkatan jaringan yang ada di leher kiri..
Operasi cukup sukses meski setelah itu..kondisi sie sempet drop,muntah sepanjang malam dan nyeri perut yang sangat hebat..sie bisa melewati dengan baik..
Gak cukup sampai disitu, setelah operasi sie harus menjalani proses kemoterapi dengan kombinasi obat baru dan dosis yang tinggi..
Kemo yang ini lebih sakit dari biasanya..efeknya juga ”lumayan” mulai dari bikin rontok rambut,hyperpigmentasi,pembuluh darah dan tenggorokan seperti terbakar,mual,muntah bahkan yang paling parah sie terancam resiko kerusakan jantung..hhhh…
Belum lagi setelah selesai kemo,setengah mati sie menahan untuk tetep sadar dan gak muntah,meski perut dan kepala sie sakit bukan kepalang..
akibatnya menjelang malam sie anfal dan bernafas memakai alat bantu nafas
Dari hasil observasi ternyata kembali paru paru sie kerendem cairan dan malam itu juga punggung sie dilubangi lagi,dimasukkin selang lagi,disedot lagi..
Jangan tanya rasanya..saking ”nikmatnya” sie gak bisa menggambarkan he he..
Malam itu dalam kondisi setengah sadar sie sempat mikir apa sie udah dekat dengan kematian? Apa sie memang ditakdirkan untuk mati di usia muda?
Sebagai manusia biasa meski sie udah berupaya tegar,fikiran fikiran seperti itu sempet satu atau dua kali melintas..
Satu waktu sie pernah ngobrol sama Dr.Lim..
Waktu itu sie merasakan kesakitan luar biasa disekujur tubuh bersamaan itu juga nyeri dan mual di ulu hati gak bisa sie tahan lagi..tanpa sadar sie mengeluh ” dokter,kenapa sih sie gak sembuh sembuh? sudah berpuluh puluh botol infus dan puluhan obat obatan yang udah sie telan,kenapa sie masih begini?? Sie rasa sie lebih baik berhenti aja dok daripada hidup seperti ini”
”Ssstt.. Hidup dan Mati itu milik Tuhan,kita tak punya hak memutuskan, bahkan dalam keadaan yang sulit sekalipun,kita hanya bisa berusaha,menerima dan pasrah atas keinginanNYA,
Lalu dia mencontohkan keadaan seorang prajurit yang sekarat di medan pertempuran,meski nafasnya tinggal satu satu oleh temannya tetap berusaha menyelamatkan nyawanya, sekalipun dia gak mau ditolong karena dia yakin dalam beberapa waktu dia pasti mati..
Kamu tau artinya?? Itu artinya sebagai manusia kita harus tetap berusaha meski kemungkinannya sangat kecil,soal berhasil ataupun tidak itu adalah KuasaNYA..
50% umur manusia seperti teka teki,tapi selalu ada peluang untuk tetap hidup menjadi 100% dan kamu harus mengambil peluang itu.
Setelah obrolan itu sie merasa lebih tenang meski sie tau kanker ini perlahan tapi pasti menggerogoti setiap inci sel dalam tubuh sie,tapi paling tidak tim dokter masih tetap akan berjuang dan memberi harapan untuk kesembuhan sie.
Sisanya biar sie pasrahkan sama Allah..
” Tuhan berikanlah yang terbaik untuk hidup sie,kalau kelak penyakit ini menambah beban diri sie dan orang orang yang menyayangi sie maka jemputlah sie ke SurgaMU ya Allah..
Tapi jika kesembuhan mampu mengubah segalanya atas hidup sie,maka sie memohon segeralah berikan kesembuhan atas penyakit sie ini Ya Allah.. Amiin ”
Dan pada akhirnya sie akan terus fight melawan kanker ini, sie gak takut lagi meski sie harus melewati satu kali operasi lagi,meski tim medis akan mengambil dan membuang beberapa organ tubuh sie,meski peluang keberhasilan operasi nanti cuma 25%,meski kemungkinan setelah itu sie bisa koma atau bahkan langsung ‘lewat’ he he..
Dengan mengucap Bismillah, Insya Allah sie gak takut lagi!
Maaf ya All..sie gak bermaksud menjual kesedihan,kelemahan yang sedang sie alami, sie cuma mau berbagi pengalaman berharga yang sie dapat dari kejadian ini..sie mau kalian juga tau, bahwa selalu ada hikmah yang bisa kita ambil dari setiap peristiwa,dibalik kesakitan adakalanya muncul kelemahan namun sesudahnya akan muncul pula kekuatan dan semangat untuk tetap bertahan dan terus berjuang, biarkan Takdir Allah yang akan menjawab Misteri hidup ini pada akhirnya nanti…Ayoo semangaaat, berjuang dan sie pasti menaaaangg he he..ketularan virus narsis daddynya sie xixixi

Tegar harus tetap TEGAR!!

Satu lagi tulisan Sie :
Sie mau berbagi cerita indah dari kunjungan sie ke Panti Asuhan..
Sebenernya udah dari minggu lalu sie niat banget pergi ke panti,waktu itu malah udah mau pergi eh gak taunya sie tiba tiba ngedrop sampai harus dua kali masuk RS dan nginep 4 hari xixi..jadi niat itu tetep tersimpan dihati..
Nah,jumat kemarin akhirnya niat itu kesampaian juga
Sie seneeng banget berada diantara mereka yang nasibnya gak seberuntung kita..
Dan diantara sekian banyak penghuni panti itu ada satu yang amat sangat menarik perhatian sie..
Namanya Tegar..
Itu adalah satu satunya yang dia dapatkan dari kedua orang tuanya saat dia dititipkan di Panti Asuhan itu..
Ada yang membedakan tegar dengan teman temannya yang lain..
Tegar ’sorry to say’ cacat..
Sebelah kakinya bengkok sejak lahir..
Artinya dari dulu sampai sekarang dia belum pernah merasakan bahagianya bisa berlari dan berkejaran dengan teman sebayanya..
When i first saw him..i’m falling in love he he..
Sie jatuh hati melihat wajahnya yang imut,lucu dan menggemaskan..
Waktu itu dia duduk diam mengawasi teman temannya bermain petak umpet dan berkejar kejaran..
Matanya bergerak kesana kemari mengikuti setiap gerak gerik temannya..
Waktu sie mendekat..GOD dia tersenyum maniiiss bangeeet lalu bilang ” apa itu? ”
Sie menatapnya heran..waktu itu sie fikir dia minta permen coklat yang memang sie bawain untuk anak panti itu
Waktu sie kasih..dia menggeleng..” bukan kak,bukan permen tapi itu ” sambil menunjuk komik yang sie pegang..
” buku ini? ” tanya sie..dan dia mengangguk kuat..
Lalu sie berikan komik itu sambil duduk disampingnya..
” waaaah baguus..waaaah ada gambarnya,bagus banget kak” dia bergumam gembira sambil membuka lembar demi lembar komik bergambar ditangannya
Dan sie jadi senyum senyum sendiri ngeliat reaksinya..
” Ayo dong dibaca jangan cuma diliat ” kata sie..
Dia menggeleng dan bilang ” aku gak bisa baca ”
Ya udah mau gak kakak bacain ? Tanya sie
” mau ” katanya sambil tersenyum manis..
Lalu kami pindah tempat duduk ke bangku samping dan pada saat berdiri itulah sie baru tersadar kalau ada yang beda dari dia, yaitu kakinya yang gak bisa berjalan normal..
Kemudian sie mulai membacakan cerita tentang pangeran dan putri dari negeri impian..
Selagi sie membaca dia mendengarkan dengan penuh antusias..lalu tiba tiba dia nyeletuk..
” enak ya jadi pangeran ” katanya..
” Hah ”
” iya, dia cuma berdoa aja bisa dapat putri cantik jelita ”
” maksud tegar apa sayang? ” tanya sie bingung..
Lalu dia menatap tajam kedalam mata sie..
” aku sering berdoa dan minta pada Tuhan setiap mau tidur,supaya kalo aku bangun kaki aku sembuh dan aku bisa main lari lari sama teman teman, tapi Tuhan gak pernah mendengar doa aku, Tuhan gak sayang aku,aku udah gak mau berdoa lagi ”
Sampai disitu sie terdiam beberapa saat, lalu sie memeluknya dan menggenggam kedua tangannya
” tegar gak boleh ngomong gitu ya..Tuhan itu sayang sama tegar makanya tegar diciptakan ‘beda’
Setiap ciptaan Tuhan gak selalu sama tapi Tuhan selalu menitipkan kelebihan pada tiap tiap ciptaannya,tegar pasti memiliki kelebihan yang mungkin temen temen gak punya,cuma belum keliatan aja,makanya tegar harus sekolah yang pintar biar bisa jadi apa aja yang tegar mau,tegar harus lebih maju dari mereka mereka yang punya fisik sempurna, tegar harus tunjukkin kalau tegar bisa berprestasi..pokoknya kakak gak mau tegar patah semangat, tegar harus TEGAR seperti namanya,janji ya sama kakak?
Dia diam,mungkin kesulitan mencerna kalimat sie yang meluncur tanpa jeda haha..
Tapi itu gak lama, berikutnya dia tersenyum dan mengangguk tegas dan bilang ” iya kak,aku ngerti sekarang, dan aku janji akan belajar yang rajin dan pintar seperti kakak bilang ”
” bukan cuma itu,kakak juga mau tegar tetep berdoa,minta pada Tuhan untuk menjaga dan menjadikan tegar anak pintar biar bisa meraih cita cita setinggi bintang ” kata sie sambil tetap menggenggam kedua jemarinya.
” Ok kak..aku janji,aku akan berdoa lagi ”
” Nah gitu dong..jangan lupa doain kakak juga ya ”
” Siiipp deeeh ” katanya sambil ngacungin jempolnya..lalu kami berpelukan..
Jadi gitu ceritanya..dari situ sie pengen kita semua bersyukur dan menghargai apa yang sudah kita miliki..
Seringkali kita menyalahkan Tuhan atas kekurangan kita dan iri pada kelebihan orang lain..padahal Tuhan menciptakaan perbedaan justru sebagai cermin diri dan pengingat diri agar gak terlena kesenangan dunia aja..halah sie sok tua banget ya..maaf deh..kalau ada yang gak setuju he he..
Tapi yang pasti sie jadi kepikiran ‘’sesuatu” jika suatu saat nanti sie ”pergi”
Dan minggu depan tegar akan punya keluarga baru,sie fikir mungkin itulah jawaban dari doa doanya selama ini..Allah memberikan lebih dari yang dia minta yaitu sebuah ‘keluarga’
Semoga tegar akan selalu TEGAR seperti namanya!!

Cinta Luar Biasa Dari Laki-Laki Biasa

Menjelang hari H, Nania masih saja sulit mengungkapkan alasan kenapa dia mau menikah dengan lelaki itu. Baru setelah menengok ke belakang, hari-hari yang dilalui, gadis cantik itu sadar, keheranan yang terjadi bukan semata miliknya, melainkan menjadi milik banyak orang; Papa dan Mama, kakak-kakak, tetangga, dan teman-teman Nania. Mereka ternyata sama herannya.
Kenapa? Tanya mereka di hari Nania mengantarkan surat undangan. Saat itu teman-teman baik Nania sedang duduk di kantin menikmati hari-hari sidang yang baru saja berlalu. Suasana sore di kampus sepi. Berpasang-pasang mata tertuju pada gadis itu.
Tiba-tiba saja pipi Nania bersemu merah, lalu matanya berpijar bagaikan lampu neon limabelas watt. Hatinya sibuk merangkai kata-kata yg barangkali beterbangan di otak melebihi kapasitas. Mulut Nania terbuka. Semua menunggu. Tapi tak ada apapun yang keluar dari sana . Ia hanya menarik nafas, mencoba bicara dan? menyadari, dia tak punya kata-kata!
Dulu gadis berwajah indo itu mengira punya banyak jawaban, alasan detil dan spesifik, kenapa bersedia menikah dengan laki-laki itu. Tapi kejadian di kampus adalah kali kedua Nania yang pintar berbicara mendadak gagap. Yang pertama terjadi tiga bulan lalu saat Nania menyampaikan keinginan Rafli untuk melamarnya. Arisan keluarga Nania dianggap momen yang tepat karena semua berkumpul, bahkan hingga generasi ketiga, sebab kakak-kakaknya yang sudah berkeluarga membawa serta buntut mereka.
Kamu pasti bercanda! Nania kaget. Tapi melihat senyum yang tersungging di wajah kakak tertua, disusul senyum serupa dari kakak nomor dua, tiga, dan terakhir dari Papa dan Mama membuat Nania menyimpulkan : mereka serius ketika mengira Nania bercanda.
Suasana sekonyong-konyong hening. Bahkan keponakan-keponakan Nania yang balita melongo dengan gigi-gigi mereka yang ompong. Semua menatap Nania! Nania serius! tegasnya sambil menebak-nebak, apa lucunya jika Rafli memang melamarnya.
Tidak ada yang lucu, suara Papa tegas, Papa hanya tidak mengira Rafli berani melamar anak Papa yang paling cantik! Nania tersenyum. Sedikit lega karena kalimat Papa barusan adalah pertanda baik. Perkiraan Nania tidak sepenuhnya benar sebab setelah itu berpasang-pasang mata kembali menghujaninya, seperti tatapan mata penuh selidik seisi ruang pengadilan pada tertuduh yang duduk layaknya pesakitan.
Tapi Nania tidak serius dengan Rafli, kan ? Mama mengambil inisiatif bicara, masih seperti biasa dengan nada penuh wibawa, maksud Mama siapa saja boleh datang melamar siapapun, tapi jawabannya tidak harus iya, toh? Nania terkesima.
Kenapa? Sebab kamu gadis Papa yang paling cantik. Sebab kamu paling berprestasi dibandingkan kami. Mulai dari ajang busana, sampai lomba beladiri. Kamu juga juara debat bahasa Inggris, juara baca puisi seprovinsi. Suaramu bagus!
Sebab masa depanmu cerah. Sebentar lagi kamu meraih gelar insinyur. Bakatmu yang lain pun luar biasa. Nania sayang, kamu bisa mendapatkan laki-laki manapun yang kamu mau! Nania memandangi mereka, orang-orang yang amat dia kasihi, Papa, kakak-kakak, dan terakhir Mama. Takjub dengan rentetan panjang uraian mereka atau satu kata ‘kenapa’ yang barusan Nania lontarkan.
Nania Cuma mau Rafli, sahutnya pendek dengan airmata mengambang di kelopak. Hari itu dia tahu, keluarganya bukan sekadar tidak suka, melainkan sangat tidak menyukai Rafli. Ketidaksukaan yang mencapai stadium empat.
Parah.
Tapi kenapa? Sebab Rafli cuma laki-laki biasa, dari keluarga biasa, dengan pendidikan biasa, berpenampilan biasa, dengan pekerjaan dan gaji yg amat sangat biasa. Bergantian tiga saudara tua Nania mencoba membuka matanya. Tak ada yang bisa dilihat pada dia, Nania!
Cukup!
Nania menjadi marah. Tidak pada tempatnya ukuran-ukuran duniawi menjadi parameter kebaikan seseorang menjadi manusia. Di mana iman, di mana tawakkal hingga begitu mudah menentukan masa depan seseorang dengan melihat pencapaiannya hari ini?
Sayangnya Nania lagi-lagi gagal membuka mulut dan membela Rafli. Barangkali karena Nania memang tidak tahu bagaimana harus membelanya. Gadis itu tak punya fakta dan data konkret yang bisa membuat Rafli tampak ‘luar biasa’. Nania Cuma punya idealisme berdasarkan perasaan yang telah menuntun Nania menapaki hidup hingga umur duapuluh tiga. Dan nalurinya menerima Rafli. Di sampingnya Nania bahagia. Mereka akhirnya menikah.
***
Setahun pernikahan.
Orang-orang masih sering menanyakan hal itu, masih sering berbisik-bisik di belakang Nania, apa sebenarnya yang dia lihat dari Rafli. Jeleknya, Nania masih belum mampu juga menjelaskan kelebihan-kelebihan Rafli agar tampak di mata mereka.
Nania hanya merasakan cinta begitu besar dari Rafli, begitu besar hingga Nania bisa merasakannya hanya dari sentuhan tangan, tatapan mata, atau cara dia meladeni Nania. Hal-hal sederhana yang membuat perempuan itu sangat bahagia. Tidak ada lelaki yang bisa mencintai sebesar cinta Rafli pada Nania.
Nada suara Nania tegas, mantap, tanpa keraguan. Ketiga saudara Nania hanya memandang lekat, mata mereka terlihat tak percaya. Nia, siapapun akan mudah mencintai gadis secantikmu! Kamu adik kami yang tak hanya cantik, tapi juga pintar! Betul. Kamu adik kami yang cantik, pintar, dan punya kehidupan sukses!
Nania merasa lidahnya kelu. Hatinya siap memprotes. Dan kali ini dilakukannya sungguh-sungguh. Mereka tak boleh meremehkan Rafli. Beberapa lama keempat adik dan kakak itu beradu argumen. Tapi Rafli juga tidak jelek, Kak! Betul. Tapi dia juga tidak ganteng kan ?
Rafli juga pintar! Tidak sepintarmu, Nania. Rafli juga sukses, pekerjaannya lumayan. Hanya lumayan, Nania. Bukan sukses. Tidak sepertimu. Seolah tak ada apapun yang bisa meyakinkan kakak-kakaknya, bahwa adik mereka beruntung mendapatkan suami seperti Rafli. Lagi-lagi percuma.
Lihat hidupmu, Nania. Lalu lihat Rafli! Kamu sukses, mapan, kamu bahkan tidak perlu lelaki untuk menghidupimu. Teganya kakak-kakak Nania mengatakan itu semua. Padahal adik mereka sudah menikah dan sebentar lagi punya anak. Ketika lima tahun pernikahan berlalu, ocehan itu tak juga berhenti. Padahal Nania dan Rafli sudah memiliki dua orang anak, satu lelaki dan satu perempuan.
Keduanya menggemaskan. Rafli bekerja lebih rajin setelah mereka memiliki anak-anak. Padahal itu tidak perlu sebab gaji Nania lebih dari cukup untuk hidup senang. Tak apa, kata lelaki itu, ketika Nania memintanya untuk tidak terlalu memforsir diri. Gaji Nania cukup,  maksud Nania jika digabungkan dengan gaji Abang.
Nania tak bermaksud menyinggung hati lelaki itu. Tapi dia tak perlu khawatir sebab suaminya yang berjiwa besar selalu bisa menangkap hanya maksud baik.. Sebaiknya Nania tabungkan saja, untuk jaga-jaga. Ya? Lalu dia mengelus pipi Nania dan mendaratkan kecupan lembut. Saat itu sesuatu seperti kejutan listrik menyentakkan otak dan membuat pikiran Nania cerah.
Inilah hidup yang diimpikan banyak orang. Bahagia!
Pertanyaan kenapa dia menikahi laki-laki biasa, dari keluarga biasa, dengan pendidikan biasa, berpenampilan biasa, dengan pekerjaan dan gaji yang amat sangat biasa, tak lagi mengusik perasaan Nania. Sebab ketika bahagia, alasan-alasan menjadi tidak penting.
Menginjak tahun ketujuh pernikahan, posisi Nania di kantor semakin gemilang, uang mengalir begitu mudah, rumah Nania besar, anak-anak pintar dan lucu, dan Nania memiliki suami terbaik di dunia. Hidup perempuan itu berada di puncak!
Bisik-bisik masih terdengar, setiap Nania dan Rafli melintas dan bergandengan mesra. Bisik orang-orang di kantor, bisik tetangga kanan dan kiri, bisik saudara-saudara Nania, bisik Papa dan Mama.
Sungguh beruntung suaminya. Istrinya cantik. Cantik ya? dan kaya! Tak imbang! Dulu bisik-bisik itu membuatnya frustrasi. Sekarang pun masih, tapi Nania belajar untuk bersikap cuek tidak peduli. Toh dia hidup dengan perasaan bahagia yang kian membukit dari hari ke hari. Tahun kesepuluh pernikahan, hidup Nania masih belum bergeser dari puncak. Anak-anak semakin besar. Nania mengandung yang ketiga. Selama kurun waktu itu, tak sekalipun Rafli melukai hati Nania, atau membuat Nania menangis.
***
Bayi yang dikandung Nania tidak juga mau keluar. Sudah lewat dua minggu dari waktunya. Plasenta kamu sudah berbintik-bintik. Sudah tua, Nania. Harus segera dikeluarkan! Mula-mula dokter kandungan langganan Nania memasukkan sejenis obat ke dalam rahim Nania. Obat itu akan menimbulkan kontraksi hebat hingga perempuan itu merasakan sakit yang teramat sangat. Jika semuanya normal, hanya dalam hitungan jam, mereka akan segera melihat si kecil.
Rafli tidak beranjak dari sisi tempat tidur Nania di rumah sakit. Hanya waktu-waktu shalat lelaki itu meninggalkannya sebentar ke kamar mandi, dan menunaikan shalat di sisi tempat tidur. Sementara kakak-kakak serta orangtua Nania belum satu pun yang datang. Anehnya, meski obat kedua sudah dimasukkan, delapan jam setelah obat pertama, Nania tak menunjukkan tanda-tanda akan melahirkan.
Rasa sakit dan melilit sudah dirasakan Nania per lima menit, lalu tiga menit. Tapi pembukaan berjalan lambat sekali. Baru pembukaan satu. Belum ada perubahan, Bu. Sudah bertambah sedikit, kata seorang suster empat jam kemudian menyemaikan harapan. Sekarang pembukaan satu lebih sedikit. Nania dan Rafli berpandangan. Mereka sepakat suster terakhir yang memeriksa memiliki sense of humor yang tinggi.
Tigapuluh jam berlalu. Nania baru pembukaan dua. Ketika pembukaan pecah, didahului keluarnya darah, mereka terlonjak bahagia sebab dulu-dulu kelahiran akan mengikuti setelah ketuban pecah. Perkiraan mereka meleset. Masih pembukaan dua, Pak! Rafli tercengang. Cemas. Nania tak bisa menghibur karena rasa sakit yang sudah tak sanggup lagi ditanggungnya.
Kondisi perempuan itu makin payah. Sejak pagi tak sesuap nasi pun bisa ditelannya. Bang? Rafli termangu. Iba hatinya melihat sang istri memperjuangkan dua kehidupan.
Dokter? Kita operasi, Nia. Bayinya mungkin terlilit tali pusar. Mungkin? Rafli dan Nania berpandangan. Kenapa tidak dari tadi kalau begitu? Bagaimana jika terlambat? Mereka berpandangan, Nania berusaha mengusir kekhawatiran. Ia senang karena Rafli tidak melepaskan genggaman tangannya hingga ke pintu kamar operasi. Ia tak suka merasa sendiri lebih awal.
Pembiusan dilakukan, Nania digiring ke ruangan serba putih. Sebuah sekat ditaruh di perutnya hingga dia tidak bisa menyaksikan ketrampilan dokter-dokter itu. Sebuah lagu dimainkan. Nania merasa berada dalam perahu yang diguncang ombak. Berayun-ayun. Kesadarannya naik-turun.
Terakhir, telinga perempuan itu sempat menangkap teriakan-teriakan di sekitarnya, dan langkah-langkah cepat yang bergerak, sebelum kemudian dia tak sadarkan diri. Kepanikan ada di udara. Bahkan dari luar Rafli bisa menciumnya. Bibir lelaki itu tak berhenti melafalkan zikir.
Seorang dokter keluar, Rafli dan keluarga Nania mendekat. Pendarahan hebat! Rafli membayangkan sebuah sumber air yang meluap, berwarna merah. Ada varises di mulut rahim yang tidak terdeteksi dan entah bagaimana pecah! Bayi mereka selamat, tapi Nania dalam kondisi kritis.
Mama Nania yang baru tiba, menangis. Papa termangu lama sekali. Saudara-saudara Nania menyimpan isak, sambil menenangkan orangtua mereka. Rafli seperti berada dalam atmosfer yang berbeda. Lelaki itu tercenung beberapa saat, ada rasa cemas yang mengalir di pembuluh-pembuluh darahnya dan tak bisa dihentikan, menyebar dan meluas cepat seperti kanker. Setelah itu adalah hari-hari penuh doa bagi Nania.
***
Sudah seminggu lebih Nania koma. Selama itu Rafli bolak-balik dari kediamannya ke rumah sakit. Ia harus membagi perhatian bagi Nania dan juga anak-anak. Terutama anggota keluarganya yang baru, si kecil. Bayi itu sungguh menakjubkan, fisiknya sangat kuat, juga daya hisapnya. Tidak sampai empat hari, mereka sudah oleh membawanya pulang.
Mama, Papa, dan ketiga saudara Nania terkadang ikut menunggui Nania di rumah sakit, sesekali mereka ke rumah dan melihat perkembangan si kecil. Walau tak banyak, mulai terjadi percakapan antara pihak keluarga Nania dengan Rafli. Lelaki itu sungguh luar biasa. Ia nyaris tak pernah meninggalkan rumah sakit, kecuali untuk melihat anak-anak di rumah. Syukurnya pihak perusahaan tempat Rafli bekerja mengerti dan memberikan izin penuh. Toh, dedikasi Rafli terhadap kantor tidak perlu diragukan.
Begitulah Rafli menjaga Nania siang dan malam. Dibawanya sebuah Quran kecil, dibacakannya dekat telinga Nania yang terbaring di ruang ICU. Kadang perawat dan pengunjung lain yang kebetulan menjenguk sanak famili mereka, melihat lelaki dengan penampilan sederhana itu bercakap-cakap dan bercanda mesra..
Rafli percaya meskipun tidak mendengar, Nania bisa merasakan kehadirannya. Nania, bangun, Cinta? Kata-kata itu dibisikkannya berulang-ulang sambil mencium tangan, pipi dan kening istrinya yang cantik. Ketika sepuluh hari berlalu, dan pihak keluarga mulai pesimis dan berfikir untuk pasrah, Rafli masih berjuang. Datang setiap hari ke rumah sakit, mengaji dekat Nania sambil menggenggam tangan istrinya mesra.
Kadang lelaki itu membawakan buku-buku kesukaan Nania ke rumah sakit dan membacanya dengan suara pelan. Memberikan tambahan di bagian ini dan itu. Sambil tak bosan-bosannya berbisik, Nania, bangun, Cinta? Malam-malam penantian dilewatkan Rafli dalam sujud dan permohonan. Asalkan Nania sadar, yang lain tak jadi soal.
Asalkan dia bisa melihat lagi cahaya di mata kekasihnya, senyum di bibir Nania, semua yang menjadi sumber semangat bagi orang-orang di sekitarnya, bagi Rafli. Rumah mereka tak sama tanpa kehadiran Nania. Anak-anak merindukan ibunya. Di luar itu Rafli tak memedulikan yang lain, tidak wajahnya yang lama tak bercukur, atau badannya yang semakin kurus akibat sering lupa makan.
Ia ingin melihat Nania lagi dan semua antusias perempuan itu di mata, gerak bibir, kernyitan kening, serta gerakan-gerakan kecil lain di wajahnya yang cantik. Nania sudah tidur terlalu lama. Pada hari ketigapuluh tujuh doa Rafli terjawab. Nania sadar dan wajah penat Rafli adalah yang pertama ditangkap matanya.
Seakan telah begitu lama. Rafli menangis, menggenggam tangan Nania dan mendekapkannya ke dadanya, mengucapkan syukur berulang-ulang dengan airmata yang meleleh. Asalkan Nania sadar, semua tak penting lagi.
Rafli membuktikan kata-kata yang diucapkannya beratus kali dalam doa. Lelaki biasa itu tak pernah lelah merawat Nania selama sebelas tahun terakhir. Memandikan dan menyuapi Nania, lalu mengantar anak-anak ke sekolah satu per satu. Setiap sore setelah pulang kantor, lelaki itu cepat-cepat menuju rumah dan menggendong Nania ke teras, melihat senja datang sambil memangku Nania seperti remaja belasan tahun yang sedang jatuh cinta.
Ketika malam Rafli mendandani Nania agar cantik sebelum tidur. Membersihkan wajah pucat perempuan cantik itu, memakaikannya gaun tidur. Ia ingin Nania selalu merasa cantik. Meski seringkali Nania mengatakan itu tak perlu. Bagaimana bisa merasa cantik dalam keadaan lumpuh?
Tapi Rafli dengan upayanya yang terus-menerus dan tak kenal lelah selalu meyakinkan Nania, membuatnya pelan-pelan percaya bahwa dialah perempuan paling cantik dan sempurna di dunia. Setidaknya di mata Rafli. Setiap hari Minggu Rafli mengajak mereka sekeluarga jalan-jalan keluar. Selama itu pula dia selalu menyertakan Nania. Belanja, makan di restoran, nonton bioskop, rekreasi ke manapun Nania harus ikut.
Anak-anak, seperti juga Rafli, melakukan hal yang sama, selalu melibatkan Nania. Begitu bertahun-tahun. Awalnya tentu Nania sempat merasa risih dengan pandangan orang-orang di sekitarnya. Mereka semua yang menatapnya iba, lebih-lebih pada Rafli yang berkeringat mendorong kursi roda Nania ke sana kemari. Masih dengan senyum hangat di antara wajahnya yang bermanik keringat.
Lalu berangsur Nania menyadari, mereka, orang-orang yang ditemuinya di jalan, juga tetangga-tetangga, sahabat, dan teman-teman Nania tak puas hanya memberi pandangan iba, namun juga mengomentari, mengoceh, semua berbisik-bisik. Baik banget suaminya! Lelaki lain mungkin sudah cari perempuan kedua!
Nania beruntung! Ya, memiliki seseorang yang menerima dia apa adanya. Tidak, tidak cuma menerima apa adanya, kalian lihat bagaimana suaminya memandang penuh cinta. Sedikit pun tak pernah bermuka masam!
Bisik-bisik serupa juga lahir dari kakaknya yang tiga orang, Papa dan Mama. Bisik-bisik yang serupa dengungan dan sempat membuat Nania makin frustrasi, merasa tak berani, merasa? Tapi dia salah. Sangat salah. Nania menyadari itu kemudian. Orang-orang di luar mereka memang tetap berbisik-bisik, barangkali selamanya akan selalu begitu. Hanya saja, bukankah bisik-bisik itu kini berbeda bunyi?
Dari teras Nania menyaksikan anak-anaknya bermain basket dengan ayah mereka.. Sesekali perempuan itu ikut tergelak melihat kocak permainan. Ya. Duapuluh dua tahun pernikahan. Nania menghitung-hitung semua, anak-anak yang beranjak dewasa, rumah besar yang mereka tempati, kehidupan yang lebih dari yang bisa dia syukuri.
Meski tubuhnya tak berfungsi sempurna. Meski kecantikannya tak lagi sama karena usia, meski karir telah direbut takdir dari tangannya. Waktu telah membuktikan segalanya. Cinta luar biasa dari laki-laki biasa yang tak pernah berubah, untuk Nania.

Ibuku Bermata Satu

Ibuku hanya memiliki satu mata. Aku membencinya sungguh memalukan. Ia menjadi juru masak di sekolah, untuk membiayai keluarga. Suatu hari ketika aku masih SD, ibuku datang. Aku sangat malu. Mengapa ia lakukan ini? Aku memandangnya dengan penuh kebencian dan melarikan.
Keesokan harinya di sekolah “Ibumu hanya punya satu mata?!?!” Ieeeeee, jerit seorang temanku. Aku berharap ibuku lenyap dari muka bumi. Ujarku pada ibu, “Bu. Mengapa Ibu tidak punya satu mata lainnya? Kalau Ibu hanya ingin membuatkuditertawakan, lebih baik Ibu mati saja!!!” Ibuku tidak menyahut.
Aku merasa agak tidak enak, tapi pada saat yang bersamaan, lega rasanya sudah mengungkapkan apa yang ingin sekali kukatakan selama ini. Mungkinkarena Ibu tidak menghukumku, tapi aku tak berpikir sama sekali bahwa perasaannya sangat terluka karenaku.
Malam itu..
Aku terbangun dan pergi ke dapur untuk mengambil segelas air. Ibuku sedang menangis, tanpa suara, seakan-akan ia takut aku akan terbangun karenanya. I memandangnya sejenak, dan kemudian berlalu. Akibat perkataanku tadi, hatiku tertusuk. Walaupun begitu, aku membenci ibuku yang sedang menangis dengan satu matanya.
Jadi aku berkata pada diriku sendiri bahwa aku akan tumbuh dewasa dan menjadi orang yang sukses. Kemudian aku belajar dengan tekun. Kutinggalkan ibuku dan pergi ke Singapura untuk menuntut ilmu. Lalu aku pun menikah. Aku membeli rumah.
Kemudian akupun memiliki anak. Kini aku hidup dengan bahagia sebagai seorang yang sukses. Aku menyukai tempat tinggalku karena tidak membuatku teringat akan ibuku. Kebahagian ini bertambah terus dan terus, ketika..
Apa?! Siapa ini?! Itu ibuku. Masih dengan satu matanya. Seakan-akan langit runtuh menimpaku. Bahkan anak-anakku berlari ketakutan, ngeri melihat mata Ibuku. Kataku, “Siapa kamu?! Aku tak kenal dirimu!!” Untuk membuatnya lebih dramatis, aku berteriak padanya, “Berani-beraninya kamu datang ke sini dan menakuti anak-anakku! !” “KELUAR DARI SINI! SEKARANG!!”
Ibuku hanya menjawab perlahan, “Oh, maaf. Sepertinya saya salah alamat,” dan ia pun berlalu. Untung saja ia tidak mengenaliku. Aku sungguh lega. Aku tak peduli lagi. Akupun menjadi sangat lega. Suatu hari, sepucuk surat undangan reuni sekolah tiba di rumahku di Singapura. Aku berbohong pada istriku bahwa aku ada urusan kantor. Akupun pergi ke sana .
Setelah reuni, aku mampir ke gubuk tua, yang dulu aku sebut rumah.. Hanya ingin tahu saja. Di sana , kutemukan ibuku terbujur kaku dilantai yang dingin. Namun aku tak meneteskan air mata sedikit pun.
Ada selembar kertas di tangannya. Sepucuk surat untukku.
“Anakku..Kurasa hidupku sudah cukup panjang.. Dan..aku tidak akan pergi ke Singapura lagi.. Namun apakah berlebihan jika aku ingin kau menjengukku sesekali? Aku sangat merindukanmu. Dan aku sangat gembira ketika tahu kau akan datang ke reuni itu. Tapi kuputuskan aku tidak pergi ke sekolah. Demi kau..
Dan aku minta maaf karena hanya membuatmu malu dengan satu mataku. Kau tahu, ketika kau masih sangat kecil, kau mengalami kecelakaan dan kehilangan satu matamu. Sebagai seorang ibu, aku tak tahan melihatmu tumbuh hanya dengan satu mata. Maka aku berikan mataku untukmu.Aku sangat bangga padamu yang telah melihat seluruh dunia untukku, di tempatku, dengan mata itu.
Aku tak pernah marah atas semua kelakuanmu. Ketika kau marah padaku.. Aku hanya membatin sendiri, “Itu karena ia mencintaiku” Anakku! Oh, anakku!”
Morality from this story:
bahwa kebaikan yang mereka nikmati itu adalah karena kebaikan orang lain secara langsung maupun tak langsung. Berhentilah sejenak dan renungi hidupmu! Bersyukurlah atas apa yang kau miliki sekarang dibandingkan apa yang tidak dimiliki oleh jutaan orang lain! Luangkan waktu untuk mendoakan ibumu!